Ditawarin Jadi Sugar Baby
Cerita ini bermula ketika saya iseng bermain Ome TV di sore hari. Saat itu usia ku 29 tahun.
Saya bertemu dengan laki-laki usia 50 tahunan. Cerai tahun lalu dan sedang enjoy menjalani hidup. Orangnya asyik diajak ngobrol, dan lucu juga. Dia dari suku x tapi tinggal di Belanda. Bolak-balik dari kota A ke Belanda, tiap dua minggu sekali.
Kemudian dia mulai tanya hal-hal pribadi, kayak pekerjaan, kegiatan, hobi. Trus tiba-tiba dia bilang 'coba kamu mundur dari kamera'
Saya nurut-nurut saja. Tidak merasa ada sesuatu yang gimana-gimana. Toh dia sopan dari awal.
'Coba mutar'
Saya nurut lagi.
'Tinggi kamu berapa?'
'153'
'Oh saya 185. Saya nyari yang kayak kamu. Yang kecil dan kurus gitu'
Perawakan ku memang kayak kurang gizi sih. Haha.
Dia cerita kalau baru saja melepaskan sugar babynya yang berusia 25 tahun.
Dia tanya 'kamu mau ga jadi sugar baby saya?'
'Ha?'
'Kenapa? Malu?'
'Malu dan takut'
Di sini saya bingung mau manggil dia apa. Om, pak, bang, atau kak. Saya merasa semua tidak ada yang pas.
'Hehe.. ga usah malu' dia terkekeh. 'Nanti semua saya yang tanggung. Kamu tinggal datang aja ke kota X, kalau saya balik dari Belanda. Kita cuman ngobrol-ngobrol aja'
'Betulan?' saya mencoba percaya
'Iya. Kamu ada pacar ga?'
Saya diam
'Sering main sama pacar kamu?'
'Main...? Oh, tidak pernah'
Menyadari bahwa itu bukanlah permainan seperti catur atau PS yang dia maksud.
Dia sejenak terdiam. Disusul air muka yang berubah. 'Gimana? Mau ya? Kalau mau ini nomor saya. Pikir-pikir saja dulu'. Dia menuliskan di kolom chat.
Saya screenshot.
Malamnya, saya menatap langit-langit kamar. Melakukan tanya jawab dengan diri ku. Siapa tau memang dia baik? Siapa tau memang dia hanya butuh teman ngobrol? Kan baru cerai dari istrinya. Siapa tau dia mau biayai kelas ilustrasi ku yang harganya 12 juta itu.
Saya lalu mencari handphone dan menghubungi pacar (sekarang sudah jadi ex) kebetulan dia juga tinggal di kota A untuk bekerja. Lalu bertanya dari sudut pandangnya. 'Lumayan, kita bisa sekalian ketemu trus jalan-jalan'. Dia hanya tertawa, tidak begitu menanggapi ketika ku ceritakan.
Saya kembali berbaring di atas kasur. Menatap langit-langit kamar, lalu mondar-mandir di ruangan. Saya mau banget ikut kelas ilustrasi itu. Terbayang di kepala ku, saya menjadi spesialis ilustrasi editorial jika ikut kelas itu.

Comments
Post a Comment